Bobby Nasution Dorong Pengembangan Komoditas Ekspor Sumut Bernilai Tinggi

Bobby Nasution Dorong Pengembangan Komoditas Ekspor Sumut Bernilai Tinggi
SHARE
Mediaindonesiaraya.co.id I Medan, 9 September 2026 – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong pengembangan berbagai komoditas potensial di Sumut agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Peningkatan produksi, menurutnya, harus diiringi dengan pengembangan produk turunan, stabilitas pasokan, pemanfaatan teknologi, serta perluasan akses pasar.
Hal itu disampaikan Bobby saat menerima audiensi Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sumut Prayatno Ginting bersama jajaran di ruang kerja Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan, Senin (7/9/2026).
Bobby mengatakan, Sumut memiliki beragam komoditas pangan potensial dan strategis, termasuk sejumlah produk pertanian yang selama ini menjadi komoditas ekspor. Karena itu, pengembangannya perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pengembangan komoditas harus diarahkan agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, sehingga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Begitu juga dengan pemanfaatan teknologi yang ada,” ujar Bobby.
Menurutnya, Sumut juga memiliki peluang investasi yang besar di sektor pangan. Namun, pengembangan produk turunan harus dibarengi dengan stabilitas produksi dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.
“Banyak yang berpotensi, seperti di Kepulauan Nias. Di sana belum ketemu pasar yang sesuai. Namun masalahnya bukan pasarnya, tetapi jumlah produksi yang belum memenuhi kebutuhan pasar,” jelasnya.
Bobby menilai, kapasitas produksi menjadi salah satu faktor penting agar suatu komoditas mampu memberikan nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat. Karena itu, pengembangan produk turunan dan stabilitas pasokan harus berjalan beriringan dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi produsen.
“Setelah komoditas itu sesuai kebutuhan pasar, pemerintah dan pihak terkait pun perlu mengintervensi. Jadi harus ada kolaborasi bersama, seperti penetapan target tahunan komoditas apa yang perlu kita capai,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah berperan menyiapkan kebijakan dan program, sementara masyarakat menjadi pelaku utama produksi. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempertemukan kebutuhan pasar dengan ketersediaan komoditas.
“Makanya program dan anggaran pemerintah harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Karenanya kami juga ingin menjalin kerja sama untuk meneliti dan mengembangkan komoditas yang berpotensi untuk bisa diekspor,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sumut Prayatno Ginting menyambut baik rencana pengembangan komoditas baru yang berpotensi menjadi produk ekspor Sumut.
Ia menyebut lidi sawit sebagai salah satu komoditas yang memiliki nilai ekspor tinggi, namun potensinya belum banyak terpantau.
Selain itu, sejumlah komoditas asal Sumut seperti kepiting, udang, dan sarang burung walet juga memberikan kontribusi besar terhadap ekspor dengan nilai mencapai Rp8,1 triliun. Termasuk pula rencana pengiriman produk durian ke pasar Tiongkok.
Ginting juga menyampaikan kendala terkait pemeriksaan sampel hama dan penyakit yang saat ini masih harus dikirim ke laboratorium di Jakarta dan Surabaya. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan biaya cukup besar.
“Saat ini kendala kita, untuk sampel hama dan penyakit masih harus dikirim ke laboratorium di Jakarta dan Surabaya. Biayanya cukup besar. Kami berharap laboratorium yang ada di sini bisa dibuka kembali,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Bobby Nasution merespons positif rencana pembukaan kembali laboratorium tersebut setelah memastikan kondisi dan kesiapan fasilitasnya. (yoel)

Redaksi Media Indonesia Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *