Muhri Fauzi Hafiz: Sugiat Santoso Sejak Dulu Selalu Bawa Kuala, untuk Dikenal di Sumatera Utara, Selanjutnya Akan Mendunia
Mediaindonesiaraya.co.id| MEDAN, 29 Agustus 2026 — Cerita masa kecil dan remaja Dr. H. Sugiat Santoso kembali menjadi perhatian dalam acara tasyakuran wisuda doktornya di Hotel Le Polonia Medan, Jumat (28/8/2026). Dalam sambutannya, Sugiat Santoso, mengisahkan masa sekolahnya yang penuh perjuangan, seperti dirinya harus berjalan kaki cukup jauh melewati hutan dan ladang untuk berangkat sekolah. Bahkan, dalam perjalanan tidak jarang berjumpa orang utan, babi hutan dan berbagai satwa lainnya, yang membahayakan seorang anak usia SD/SMP, termasuk juga cerita tentang kecenderungan dirinya menyukai pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia.
“Saya memang orang eksakta. Matematika, fisika dan kimia itu mata pelajaran kesukaan saya. Kalau di SD/SMP juara teruslah, nah, kalau di SMA saat guru 3 mata pelajaran itu, gak bisa datang, Saya lah yang menggantikan, dan teman-teman saya tahu itu. Bahkan, sangking suka itu, Saya juga sempat menulis di kamar: “Sugiat penerima Nobel untuk matematika, fisika, kimia tahun 2030,” itu saya tulis di kamar,” ujar Dr. H. Sugiat Santoso di hadapan para tamu undangan, pada acara Tasyakuran Wisuda Doktor-nya, Jumat, (28/8/2026).
Cerita tersebut mendapat perhatian dari Ketua Media Indonesia Raya (MIRA), Muhri Fauzi Hafiz, yang hadir dalam acara tersebut.
Menurut Muhri, perjalanan hidup Sugiat menunjukkan bagaimana pengalaman sejak kecil dapat membentuk karakter. Bahwa keberanian bermimpi dan komitmen untuk mencapai cita-cita, sejak kecil, pada akhirnya secara otomatis membentuk etos pribadi yang kuat.
“Sugiat Santoso hebatlah, Saya sebagai kawan mengetahuinya, karena memang sejak dulu beliau selalu bawa Kuala, untuk dikenal di Sumatera Utara, bahkan mungkin akan mendunia. Saya yakin, Doktor Sugiat Santoso, selanjutnya mampu membawa Kuala mendunia,” tegas Muhri Fauzi Hafiz.
Muhri mengaku telah mengenal Sugiat sejak masa SMA sekitar 1996/1997, ketika keduanya mengikuti lomba penulisan karya ilmiah remaja (SMA) tentang kebudayaan daerah tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Saat itu, kata Muhri, terdapat enam peserta yang menjadi wakil daerah masing-masing, yang sudah diseleksi dan menang, untuk selanjutnya akan dipilih berangkat ke jakarta, tingkat nasional.
“Kami udah menang di sekolah masing-masing juga seleksi daerah, selanjutnya mau mewakili Sumut, diantaranya dari Dairi, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah-Sibolga, Tebing Tinggi, Kuala dan Stabat. Nah, dari Kuala ini adalah Pak Doktor Sugiat Santoso. Ingat, ya, pada tahun 1996/1997 saja, Beliau sudah membawa nama Kuala dikenal di Sumatera Utara. Apalagi sekarang 2026? Kalau kita sepakat dengan catatan yang pernah Beliau tulis di kamar saat remaja itu, maka, tahun 2030-an selanjutnya, Kuala akan dikenal dunia,” ujar Muhri Fauzi Hafiz mengenang.
Bagi Muhri, kisah tersebut bukan sekadar nostalgia. Ia melihatnya sebagai gambaran bahwa seseorang dapat tumbuh membawa identitas daerahnya sekaligus memiliki keberanian untuk bermimpi jauh melampaui batas daerah.
“Anak Kuala, Sumatera Utara, yang sejak remaja sudah berani menuliskan mimpi besar. Hari ini ia sudah menjadi doktor, wakil ketua komisi XIII DPR RI, Juru bicara Partai Gerindra dan Sekretaris Gerindra Sumut. Jadi, mari Kita doakan mimpi berikutnya juga menjadi kenyataan, pungkas Muhri. (isl)

