Investasi Nasional Tembus Rp1.539,2 Triliun hingga September 2026, Serap 2,19 Juta Tenaga Kerja
Mediaindonesiaraya.co.id | Jakarta, 20 Oktober 2026 – Realisasi investasi nasional sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau 75,4 persen dari target yang ditetapkan pemerintah. Capaian tersebut turut menyerap sebanyak 2.194.496 tenaga kerja di berbagai wilayah Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa realisasi investasi pada triwulan III 2026 mencapai Rp528,7 triliun.
“Ini untuk Januari sampai dengan September 2026 sehingga total penyerapan tenaga kerja itu mencapai 2.194.496 orang. Dan kontribusi dalam negeri-luar negerinya, dalam negerinya itu kurang lebih Rp761,4 triliun atau 49,5 persen dan penanaman modal asingnya mencapai Rp777,8 triliun atau 50,5 persen,” ujar Rosan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Berdasarkan asal modal, investasi dalam negeri atau penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp761,4 triliun atau 49,5 persen dari total realisasi. Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp777,8 triliun atau 50,5 persen.
Dari sisi persebaran wilayah, realisasi investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp779,4 triliun atau 50,6 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi investasi di Pulau Jawa yang tercatat sebesar Rp759,8 triliun atau 49,4 persen.
Adapun berdasarkan negara asal investasi asing, Singapura menjadi kontributor terbesar dengan nilai investasi mencapai US$14 miliar atau 29,6 persen. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong dengan nilai US$12,8 miliar atau 27,2 persen, disusul Tiongkok sebesar US$5 miliar atau 10,5 persen.
“Yang pertama lima besarnya Singapura sebesar 14 miliar dolar atau 29,6 persen, kedua ini Hongkong 12,8 miliar atau 27,2 persen, ketiga Tiongkok itu 5 miliar atau 10,5 persen,” kata Rosan.
Sementara itu, sektor hilirisasi mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp480 triliun selama Januari hingga September 2026. Sektor mineral menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp335,1 triliun, mencakup berbagai komoditas, seperti nikel, bauksit, besi baja, tembaga, dan pasir silika.
Selain sektor mineral, investasi hilirisasi juga berasal dari sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun.
Rosan menambahkan, investasi hilirisasi masih didominasi wilayah luar Jawa. Realisasi investasi di luar Jawa mencapai sekitar Rp373,1 triliun atau 78 persen dari total investasi hilirisasi. Sementara itu, wilayah Jawa menyumbang Rp106,9 triliun atau 22 persen.
“Memang khusus untuk realisasi luar Jawa investasinya itu mencapai 78 persen dari total investasi direalisasi yang masuk kurang lebih Rp373,1 triliun, berbanding di dalam Jawa 22 persen atau Rp106,9 triliun,” tandasnya.
Capaian realisasi investasi hingga September 2026 tersebut menunjukkan bahwa investasi di luar Jawa masih memegang peranan penting dalam pemerataan kegiatan ekonomi nasional, sementara sektor hilirisasi terus menjadi salah satu komponen utama dalam mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya alam dan penyerapan tenaga kerja. (*)
