Polisi Gagalkan Pengiriman 10 Paket Sabu di Asahan, Dua Pria Kabur ke Perkebunan Sawit

Polisi Gagalkan Pengiriman 10 Paket Sabu di Asahan, Dua Pria Kabur ke Perkebunan Sawit
SHARE

Mediaindonesiaraya.co.id I Asahan, 2 November 2026 – Dua pria yang menumpangi mobil minibus Toyota Calya BK 1550 KL berhasil melarikan diri ke dalam semak-semak di tengah perkebunan kelapa sawit di Desa Aek Teluk Kiri, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Asahan, saat polisi berupaya melakukan pengejaran terhadap mobil tersebut pada Minggu (1/11/2026) malam.

Di dalam mobil, polisi menemukan 10 bungkus narkotika jenis sabu-sabu yang disamarkan dalam kemasan plastik teh. Barang haram itu diduga dibawa dari arah Kota Tanjungbalai menuju Rantauprapat.

Kapolres Asahan, AKBP Adi Dharma Pramuditha, dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (2/11/2026), mengatakan terendusnya dugaan pengiriman narkotika jaringan internasional yang masuk melalui jalur perairan ini berawal dari laporan serta informasi masyarakat.

“Laporan masyarakat kepada kami adanya sebuah mobil yang dicurigai mengangkut narkotika jenis sabu-sabu. Tim kemudian melakukan pemantauan dan mengejar target,” kata Kapolres.

Saat pengejaran, mobil tersebut sempat menabrak beberapa pengendara hingga akhirnya berhenti di Jalan Lintas Sumatera, Desa Aek Teluk Kiri. Sementara itu, kedua pria yang berada di dalam mobil melarikan diri ke perkebunan kelapa sawit.

“Dilakukan pengejaran dari arah Tanjungbalai. Kemudian sopir yang membawa sabu ini menabrak beberapa pengendara lalu meninggalkan mobilnya yang selanjutnya kami amankan ke Polsek terdekat dan diperiksa ada sebuah goni berisikan 10 paket narkoba jenis sabu,” kata Adi Dharma.

Pada kesempatan itu, selain mengamankan narkotika jenis sabu, polisi juga menemukan beberapa barang bukti lain berupa baju organisasi kemasyarakatan (ormas), jaket, KTP, buku rekening bank, dan kartu ATM yang diduga milik pelaku.

“Untuk pelaku masih kami lakukan pengejaran dan pengembangan lebih lanjut,” kata dia.

Wilayah pesisir Asahan, terutama yang berbatasan dengan Tanjungbalai, kerap disebut sebagai ‘jalur emas’ dan selama ini dikenal sebagai salah satu jalur masuk narkotika jaringan internasional dari Malaysia karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka.

Banyak pelabuhan tikus atau jalur tidak resmi berupa alur sungai kecil yang memungkinkan kapal-kapal bersandar secara bebas di wilayah perairan ini menggunakan speedboat atau kapal nelayan. (yoel)

Redaksi Media Indonesia Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *