Bunda Yin Ajak Masyarakat Tetap Waspada Hadapi Bahaya Abu Vulkanik dan Saling Edukasi Protokol Kesehatan
Mediaindonesiaraya.co.id | MEDAN, 6 September 2026 — Tokoh masyarakat Sumatera Utara, Meriyawaty Amelia Prasetio atau yang akrab disapa Bunda Yin, mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya abu vulkanik sekaligus saling mengedukasi mengenai langkah-langkah menjaga kesehatan, di tengah meningkatnya aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia.
“Ajakan ini kami sampaikan sebagai bentuk kepedulian atas kondisi yang terjadi saat ini, baik di Sumatera Utara, Pulau Jawa dan sekitarnya. Masyarakat harus tetap tenang, tetapi jangan lengah. Yang paling penting adalah saling mengingatkan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah,” ujar Bunda Yin, Ketua WALUBI Sumatera Utara, kepada wartawan di Medan, Minggu (6/9/2026.)
Menurut Bunda Yin,
kewaspadaan tersebut dinilai semakin penting menyusul aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang meningkat sejak erupsi 31 Agustus 2026. BNPB melaporkan status Sinabung telah dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu sekitar 3.500 meter di atas puncak, sementara masyarakat di sejumlah wilayah terdampak telah diarahkan ke lokasi yang lebih aman. Begitu juga, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, juga masih mengalami aktivitas erupsi. Badan Geologi mencatat Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga) dan erupsi menerus kembali terjadi sejak 5 September, disertai suara gemuruh serta fenomena lava fountain.
Dampaknya juga telah meluas ke sektor transportasi. BNPB pada 6 September melaporkan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau menyebabkan penutupan sementara sejumlah bandara, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto.
Bunda Yin mengajak masyarakat menerapkan sejumlah langkah sederhana saat menghadapi abu vulkanik, yaitu:
Membersihkan abu setelah hujan atau kondisi memungkinkan, dengan membasahi abu terlebih dahulu agar tidak beterbangan. Membilas kaca mata, jendela dan kendaraan dengan air sebelum dilap, karena abu bersifat abrasif dan dapat menggores permukaan.
Menggunakan perlindungan yang tepat, terutama masker N95/KN95 yang terpasang rapat, kacamata pelindung, pakaian tertutup dan sarung tangan.
Tidak mengucek mata jika terkena abu. Mata sebaiknya dibilas perlahan dengan air bersih; penggunaan lensa kontak sebaiknya dihindari ketika terdapat abu.
Membersihkan kendaraan dengan aman dan sebisa mungkin menghindari berkendara ketika hujan abu berlangsung.
Menutup pintu, jendela dan ventilasi rumah untuk mengurangi masuknya abu.
Mengutamakan kesehatan dengan membatasi aktivitas di luar rumah dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak berat, nyeri dada atau gangguan mata yang menetap.
Panduan tersebut sejalan dengan rekomendasi kesehatan internasional. CDC menyebut abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan dan menyarankan penggunaan respirator N95 ketika berada di luar atau saat membersihkan abu, serta penggunaan pelindung mata.
“Jangan menunggu sampai kondisi semakin buruk baru kita peduli. Edukasi mengenai penggunaan masker, perlindungan mata, cara membersihkan abu dan mengikuti zona aman harus sampai kepada keluarga, tetangga, anak-anak dan kelompok masyarakat. Keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama,” kata Bunda Yin. (*)
