Prabowo Siapkan Strategi E20 hingga E50 dan Storage Minyak, Target Cadangan Energi 60 Hari
Mediaindonesiaraya.co.id | JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto membahas sejumlah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik. Strategi tersebut mencakup pengembangan bioetanol E20 hingga E50, mempertahankan program biodiesel B50, serta pembangunan fasilitas penyimpanan minyak (storage) dengan target kapasitas cadangan hingga 60 hari.
Pembahasan tersebut dilakukan dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan Presiden Prabowo secara khusus menanyakan kesiapan pemerintah dalam mengimplementasikan program bioetanol E20 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
“Saya kebetulan dari sektor energi. Bapak Presiden menanyakan kesiapan tentang implementasi daripada E20 dalam rangka mendorong ketahanan energi kita,” ujar Bahlil seusai rapat.
Menurut Bahlil, pemerintah telah menyiapkan rencana strategis pengembangan bioetanol secara bertahap, mulai dari E20 hingga E50. Pelaksanaannya akan melibatkan kolaborasi lintas kementerian, terutama Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian.
“E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM,” jelasnya.
Selain bioetanol, pemerintah juga memastikan program biodiesel B50 tetap dipertahankan. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi ketidakpastian geopolitik global yang dapat memengaruhi pasokan dan harga energi.
“Dan menyangkut dengan B50 tetap kita pertahankan, karena ini adalah geopolitik yang tidak pernah kita tahu ujungnya ke mana,” kata Bahlil.
Target Cadangan Minyak hingga 60 Hari
Langkah strategis lainnya adalah pembangunan fasilitas penyimpanan minyak atau storage di sejumlah wilayah Sumatra. Infrastruktur ini disiapkan untuk memperkuat kapasitas penyimpanan minyak mentah (crude oil), terutama ketika Indonesia melakukan impor minyak.
Bahlil menyebut pemerintah menargetkan fasilitas penyimpanan tersebut mampu menampung cadangan minyak lebih dari 20 hari, dengan sasaran jangka panjang mencapai 60 hari.
“Di samping itu kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude, itu semuanya bisa ada tempatnya di atas 20 hari. Target kita bisa sampai dengan 60 hari,” ungkapnya.
Ia menambahkan, studi kelayakan atau feasibility study pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut telah selesai. Pemerintah selanjutnya akan melakukan peninjauan sejumlah lokasi pada akhir tahun ini.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah keamanan lokasi pembangunan. Pemerintah ingin memastikan fasilitas penyimpanan minyak tidak dibangun di kawasan yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana.
“Salah satu di antaranya adalah kita rancang jangan sampai kondisi di mana kita meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan,” tegas Bahlil.
Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber energi, keberlanjutan program biodiesel, serta peningkatan kapasitas cadangan minyak nasional.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika pasokan energi dunia, penguatan infrastruktur penyimpanan dan pengembangan energi berbasis nabati diharapkan dapat mengurangi kerentanan Indonesia terhadap gejolak global sekaligus meningkatkan kemandirian energi nasional. (*)
