Bobby Minta Penataan Kampung Kreatif Gunungsitoli Tak Abaikan Rumah Warga Miskin

Bobby Minta Penataan Kampung Kreatif Gunungsitoli Tak Abaikan Rumah Warga Miskin
SHARE
Mediaindonesiaraya.co.id I Gunung Sitoli, 29 Oktober 2026 – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution meminta Pemerintah Kota (Pemko) Gunungsitoli memprioritaskan perbaikan rumah warga miskin dalam penataan Kampung Kreatif Nou Berkah.
Pembangunan kawasan wisata di bantaran Sungai Nou senilai Rp50 miliar itu harus memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat, bukan sekadar mempercantik lingkungan.
Penegasan tersebut disampaikan Bobby saat mengevaluasi proposal pembangunan Kampung Kreatif Nou Berkah yang dipaparkan Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli di kediaman sementara Gubernur Sumut di Kota Gunungsitoli.
Bobby menegaskan, pembangunan infrastruktur pariwisata harus berjalan beriringan dengan pembenahan rumah warga, terutama masyarakat yang masuk kategori miskin ekstrem.
“Jangan sampai kita keluar anggaran Rp50 miliar untuk tempat wisata, tapi rumah warga di belakangnya tetap reyot dan tidak terintervensi. Warga sudah semangat, mereka harus mendapatkan dampak langsung pembangunan pada tempat tinggal mereka,” ujar Bobby.
Ia meminta Pemko Gunungsitoli memastikan keakuratan data lapangan dan kesesuaian antara konsep perencanaan dengan kondisi riil permukiman warga. Menurutnya, jumlah rumah yang akan diperbaiki harus jelas dan masuk dalam rencana penataan kawasan.
Bobby juga menyoroti legalitas alas hak tanah yang ditempati warga di Lingkungan I Kelurahan Hilir dan Lingkungan III Kelurahan Pasar. Selain itu, ia meminta penjelasan mengenai jumlah rumah yang akan mendapat intervensi dari total 410 kepala keluarga (KK) yang terdata di kawasan tersebut.
“Saya lihat ada titik yang harusnya rumah-rumah warga hari ini ada, tapi ketika visualisasi perencanaan dibangun, rumah-rumahnya hilang. Ini perlu diperjelas, apakah memang benar ada penggusuran atau hanya kesalahan sudut pandang (positioning view) dalam visualisasi,” tegasnya.
Bobby meminta persoalan tersebut diklarifikasi agar perencanaan pembangunan tidak menimbulkan ketidakpastian bagi masyarakat yang bermukim di kawasan bantaran sungai.
Ia juga mendorong Pemko Gunungsitoli mengalokasikan anggaran khusus untuk memperbaiki kondisi fisik rumah warga. Langkah itu dinilai penting mengingat 76,1% dari total 1.756 jiwa penduduk di kawasan tersebut tercatat masuk kategori miskin ekstrem atau desil 1, dengan rata-rata pendapatan keluarga hanya Rp800.000 per bulan.
Karena itu, perbaikan rumah warga miskin diminta dimasukkan secara konkret dalam rencana kerja penataan kawasan, baik melalui skema hibah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maupun dukungan APBD Kota Gunungsitoli.
Dengan demikian, program Kampung Kreatif Sumut Berkah diharapkan tidak hanya membangun kawasan wisata, tetapi juga menjawab persoalan permukiman, meningkatkan kesejahteraan warga, dan membuka peluang ekonomi baru.
Sebelumnya, Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli menjelaskan, kawasan yang diusulkan dalam program Kampung Kreatif Sumut Berkah meliputi bantaran Sungai Nou di Lingkungan I Kelurahan Hilir dan Lingkungan III Kelurahan Pasar, Kecamatan Gunungsitoli.
Kawasan yang berjarak sekitar 0,5 hingga 1,5 kilometer dari pusat kota itu dinilai strategis untuk dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pariwisata tepi air atau waterfront.
Berdasarkan data demografi Pemko Gunungsitoli, kawasan tersebut dihuni 1.756 jiwa atau 410 KK. Lebih dari 80% warga bergantung pada bantuan sosial, antara lain Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), serta Penerima Bantuan Iuran (PBI/PBIK).
Selain itu, masyarakat di kawasan tersebut bergantung pada pemanfaatan kawasan sempadan sungai. Kondisi infrastruktur dasar juga masih terbatas, terutama dalam hal sanitasi, pengelolaan sampah, dan ketersediaan rumah layak huni.
Sowa’a mengatakan, pengembangan Kampung Kreatif Sumut Berkah diharapkan menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat identitas budaya Nias.
“Permohonan kami, bahwa Pemerintah Kota Gunungsitoli menyampaikan permohonan agar kawasan bantaran Sungai Nou, Kelurahan Hilir dan Kelurahan Pasar, Kecamatan Gunungsitoli, dapat dipertimbangkan sebagai penerima program Kampung Kreatif Sumut Berkah sebagai simpul pertumbuhan ekonomi baru yang memperkuat identitas budaya Nias, sekaligus mendorong pencapaian target-target makroekonomi dan sosial Kota Gunungsitoli maupun di Provinsi Sumatera Utara secara berkelanjutan,” katanya.
Melalui program tersebut, Pemko Gunungsitoli juga merancang transformasi mata pencaharian masyarakat setempat. Nelayan, misalnya, diarahkan menjadi pemasok bahan baku kuliner seafood, operator wisata, hingga pengelola dermaga mini.
Pedagang asongan akan didorong menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kreatif yang memiliki legalitas usaha. Sementara itu, ibu rumah tangga akan diberdayakan melalui PKK dan Karang Taruna untuk menghasilkan produk kuliner serta kriya atau anyaman khas Nias.
Adapun pekerja lepas akan mendapatkan pelatihan agar dapat menjadi tenaga profesional di bidang pariwisata dan pengelolaan kawasan.
Untuk merealisasikan program tersebut, Pemko Gunungsitoli mengusulkan anggaran sebesar Rp50 miliar yang terbagi dalam enam komponen pembangunan.
Rinciannya, stabilisasi bantaran dan resapan terpadu sebesar Rp18,5 miliar atau 37%, pembangunan waterfront tepi sungai Rp15 miliar, kampung mural dan identitas visual Nias Rp3,5 miliar, manajemen sampah berbasis komunitas Rp3,5 miliar, aktivasi ekonomi berbasis rumah warga Rp7,5 miliar, serta wisata air dan kuliner bersungai Rp5 miliar.
Sowa’a juga memaparkan proyeksi dampak ekonomi dari program tersebut. Efek pengganda fiskal atau multiplier effect diperkirakan mencapai 2,1 hingga 2,8 kali, dengan potensi perputaran ekonomi sebesar Rp105 miliar hingga Rp140 miliar dalam kurun waktu lima tahun.
Namun, evaluasi Bobby menegaskan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari pembangunan infrastruktur dan proyeksi ekonomi. Perbaikan rumah warga miskin serta peningkatan kesejahteraan masyarakat harus menjadi bagian nyata dari pelaksanaannya.(yoel)

Redaksi Media Indonesia Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *