Sujud di Forum Nasional, Bupati Nias Utara Sampaikan Jeritan Daerah Tertinggal
Mediaindonesiaraya.co.id | Jakarta – Rabu 4 Maret 2026 Ruang rapat Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal di Jakarta awalnya berjalan seperti biasa. Presentasi demi presentasi dipaparkan dengan data, grafik, dan penjelasan teknis yang sistematis.
Namun suasana mendadak berubah hening.
Di tengah forum koordinasi percepatan pembangunan daerah tertinggal, Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu, berdiri dari kursinya. Ia tak lagi berbicara sebagai pejabat yang menyampaikan laporan rutin.
Ia bersujud.
Di hadapan Menteri Desa Yandri Susanto, wakil menteri, gubernur, serta para pejabat pemerintah pusat, Amizaro menundukkan tubuhnya—sebuah simbol keprihatinan mendalam yang tak lagi mampu ia bendung.
Gestur itu bukan seremonial. Itu adalah jeritan sunyi dari daerah yang merasa tertinggal terlalu lama.
“Kami sudah lelah hidup dalam kemiskinan. Kami benar-benar lelah,” ucap Amizaro dengan suara bergetar.
Dalam forum tersebut, Amizaro ditunjuk mewakili kepala daerah dari 30 wilayah tertinggal yang baru saja diumumkan pemerintah. Namun pada momen itu, ia tidak hanya berbicara untuk Nias Utara, melainkan menyuarakan kegelisahan banyak daerah yang merasa masih berjalan tertatih ketika sebagian wilayah Indonesia sudah berlari cepat.
“Di Jawa sudah berbicara tentang AI, pusat perbelanjaan, dan jalan tol. Sementara kami masih berkutat pada persoalan rumah tidak layak huni, listrik, dan internet. Itulah perbedaan kami, Pak,” katanya.
Kontras pembangunan itu terasa menyakitkan.
Amizaro kemudian memaparkan data yang sulit dibantah. Di Nias Utara, masih terdapat 157 titik yang belum tersentuh aliran listrik. Bantuan tambahan dari PLN baru mampu menjangkau 21 lokasi. Dengan kecepatan pembangunan sekitar 30 titik per tahun, dibutuhkan hingga lima tahun lagi hanya untuk menghadirkan listrik secara merata.
Persoalan internet pun belum terselesaikan. Tercatat masih ada 42 titik blank spot. Ironisnya, sejumlah perangkat bantuan yang telah dipasang belum dapat dimanfaatkan karena ketiadaan jaringan dan pasokan listrik.
Infrastruktur ada, tetapi belum berfungsi optimal.
Ketika sebagian daerah telah berbicara tentang transformasi digital dan kecerdasan buatan, Nias Utara masih berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar: terang dan sinyal.
Meski demikian, Amizaro tidak datang hanya membawa keluhan. Ia juga membawa harapan—agar perhatian pemerintah pusat semakin konkret dan percepatan pembangunan benar-benar menyentuh daerah yang paling membutuhkan.Red
