Banjir Madina: Dua desa masih terendam, 90 persen warga Gunung Manaon mengungsi
Mediaindonediaraya.co.id I Mandailing Natal, 31 Oktober 2026 – Banjir yang melanda sejumlah desa di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, hingga Jumat (30/10) masih merendam permukiman warga di dua desa, yakni Pagaran Tonga dan Gunung Manaon, Kecamatan Panyabungan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina Mukhsin Nasution mengatakan, banjir yang paling berdampak terhadap permukiman warga terjadi akibat meluapnya Sungai Aek Ranto Puran. Sementara itu, sejumlah sungai lainnya juga mengalami kenaikan debit air, tetapi belum sampai meluap ke permukiman.
“Beberapa sungai yang mengalami kenaikan debit air di antaranya Aek Mata, Batang Gadis, dan Batang Natal. Namun, yang sampai meluap ke permukiman warga sejauh ini adalah Sungai RantoPuran,” kata Mukhsin saat dikonfirmasi, Jumat.
Ia menjelaskan, desa yang terdampak banjir meliputi Sopobatu, Gunung Tua Julu, Gunung Tua Jae, Gunung Tua Tonga, Lumban Pasir, Manyabar, Manyabar Jae, Pagaran Tonga, Gunung Saba Jambu, dan Gunung Manaon.
Menurut dia, Desa Manyabar dan Manyabar Jae sebelumnya terdampak luapan air akibat tersumbatnya material kayu di Jembatan Aek Kitang.
Pada Kamis (29/10) malam, masyarakat bersama personel BPBD Madina bergotong royong membersihkan material kayu yang menyumbat jembatan tersebut.
Upaya pembersihan yang berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB itu berhasil membuka aliran air sehingga genangan di kedua desa tersebut mulai surut.
Sementara itu, banjir di Desa Pagaran Tonga dan Gunung Manaon disebabkan jebolnya tanggul Sungai RantoPuran. Hingga Jumat, kedua desa tersebut masih tergenang karena tanggul yang rusak sedang dalam proses perbaikan.
“Pemkab Madina berencana menurunkan tiga unit ekskavator untuk mempercepat perbaikan tanggul. Saat ini satu unit sudah beroperasi di lapangan,” ujarnya.
Mukhsin menyebutkan, alat berat tersebut berasal dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah II Sumatera Utara.
Dampak banjir paling parah terjadi di Desa Gunung Manaon. BPBD memperkirakan sekitar 90 persen dari total 287 kepala keluarga (KK) di desa tersebut mengungsi.
Sedangkan di Desa Pagaran Tonga, dari sekitar 200 KK, diperkirakan 50 persen warga mengungsi.
Para warga yang mengungsi sementara menempati rumah keluarga atau tetangga terdekat yang berada di lokasi lebih tinggi dan tidak terdampak banjir.
Mukhsin menjelaskan, banjir dipicu tingginya curah hujan dengan durasi cukup lama sehingga menyebabkan debit air Sungai Ranto Puran meningkat dan meluap.
Ia juga menilai pendangkalan sungai menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian melalui normalisasi sebelum memasuki musim penghujan.
“Kalau sebelumnya dilakukan normalisasi sungai, kemungkinan dampak luapan air bisa diminimalkan. Apalagi, saat meluap, air Sungai Ranto Puran juga membawa material kayu sehingga dampaknya semakin besar di Desa Manyabar dan Manyabar Jae,” katanya.
Untuk penanganan warga terdampak, Pemkab Madina telah mendirikan posko di dua lokasi, yakni Desa Gunung Manaon dan Pagaran Tonga.
Posko tersebut dilengkapi dengan layanan kesehatan dan dapur umum guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa penanganan banjir. (yoel)
