Gerakan Sumut Bergiat (GSB) yang Mendebarkan
Mediaindonesiaraya.co.id | Medan, Senin 6 April 2026 – Acara Halal Bi Halal Yayasan Gerakan Sumatera Utara Bergiat (Yayasan GSB) yang dilaksanakan beberapa hari lalu (4/4/2026), sungguh luar biasa, ada banyak cerita yang bisa ditafsirkan. Salah satunya adalah, Sugiat Santoso.
Sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan GSB, peran Sugiat Santoso, sangat berpengaruh. Hal itu tampak jelas, pada saat acara Halal Bil Halal yang berlangsung. Dimana sosok Sugiat Santoso hari itu, seperti magnet besar yang menarik kutub magnet lain yang berbeda, mengambil fokus pikiran semua orang yang hadir.
Bahkan, kehadiran sosok Musa Rajekshah, Harli Siregar, Sultan Deli Tuanku Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, Maruli Siahaan, Tuan Guru Batak, Gus Irawan dan Kepala Daerah/Wakilnya, Muryanto Amin dan para Rektor lainnya, Bunda Yin dan Kader/Pengurus Partai Gerindra lainnya, juga Tokoh Pemuda/Masyarakat serta kawan-kawan aktivis, secara nyata memberikan penegasan bahwa Halal Bi Halal ini adalah acara Sugiat Santoso dengan “magnetnya,” tak ada yang lain. Sehingga, bagi semua yang hadir acara itu sungguh mendebarkan. Mengapa?
Pertama, acara ini awalnya dalam pikiran kebanyakan kawan-kawan yang hadir, hanyalah acara seremonial, dengan basa-basi yang tak bernilai urgensi. Namun, kenyataannya? Acara yang dihadiri banyak tokoh dengan latar belakang yang berbeda itu, menjadi seperti acara konsolidasi gerakan, konsolidasi yang bisa ditafsirkan sebagai cikal bakal hadirnya poros baru di Sumatera Utara, dengan pusatnya, Sugiat Santoso.
Kedua, sosok Harli Siregar, dengan perannya yang signifikan berpengaruh bagi penegakkan hukum pada lembaga kejaksaan di Sumut, hadir dan berikan sambutan dengan penuh keceriaan. Peristiwa yang sangat berbeda saat Harli Siregar hadir di tempat yang lain. Sungguh mendebarkan, karena Harli Siregar pun menegaskan, kenyamanan ini, karena Sugiat Santoso.
Ketiga, sambutan Sugiat Santoso, yang biasanya bisa ditebak awal dan akhirnya, dengan ciri khas yang selalu membuat keceriaan setiap yang menyimak. Pada hari itu, tampil luar biasa, mulai dari sapaan yang akrab kepada para tokoh dan sahabat yang hadir, hingga sampai menjelaskan “TEORI GIAT,” semuanya menjadi luar biasa, sungguh mendebarkan bagi yang memahami.
Keempat, tentang “TEORI GIAT.” Sebagai salah satu tamu yang hadir pada acara tersebut, penulis, sempat terdiam, ternyata GIAT itu adalah satu teori, bukan sekedar potongan kata yang diambil dari nama, Sugiat Santoso. Cerdas! Dalam sambutannya yang disampaikan tanpa teks, Sugiat Santoso, menjelaskan bahwa “TEORI GIAT,” hadir dari pengalaman empiris dirinya juga pengetahuan sejarah yang dipahaminya, sejak saat sebagai aktivis dengan status mahasiswa maupun saat sudah menjadi anggota DPR RI seperti saat ini. Cerdas!
“TEORI GIAT,” yang merupakan kumpulan dari kata G erakan, I nklusif, A kar (mengAkar) dan T umbuh, menurut Sugiat Santoso, akan mampu menjawab, bahwa orang menjadi miskin di negara kita, bukan karena malas, namun karena ada sistem yang membuat mereka tetap harus miskin, tak bisa T umbuh menjadi kaya. Tak hanya soal kemiskinan, “TEORI GIAT,” menurut Sugiat Santoso, kelak akan mampu menjawab, bahwa sumber daya (kekayaan) yang dimiliki oleh pemimpin/penguasa/pengusaha, bukanlah soal keserakahan semata, namun, sudah masuk pada rasa ketulusan berbagi untuk menguatkan A kar agar tumbuh melindungi semua yang membutuhkan tanpa terkecuali atau I nklusif.
Terlalu panjang, penulis sempat emosional, akan disambung dalam tulisan berikutnya. Diakhir penulis, kutip arti kata mendebarkan untuk kita semua.
Mendebarkan adalah kata kerja (verba) yang berarti menyebabkan jantung atau nadi berdebar-debar. Kata ini sering menggambarkan situasi, cerita, atau perasaan yang memicu rasa cemas, takut, tegang, atau gembira yang luar biasa.
Sepenuhnya pendapat pribadi penulis, Muhri Fauzi Hafiz , Ketua MIRA
