PKU UNIVA Medan Gelar Silaturahim dan Motivasi, Ustadz Ahmad Yumardi Paparkan Metode Belajar Al-Azhar
Mediaindonesiaraya.co.id | MEDAN, 18 September 2026 — Pendidikan Kader Ulama (PKU) Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan menggelar kegiatan silaturahim dan motivasi bersama Ustadz Ahmad Yumardi Lubis, Lc., Jumat (18/9/2026).
Kegiatan tersebut diisi dengan sharing mengenai metode belajar, tradisi keilmuan, serta diskusi tentang pentingnya membangun pola berpikir yang sistematis bagi mahasiswa, khususnya calon ulama.
Dalam pemaparannya, Ustadz Ahmad Yumardi mengatakan perkembangan teknologi memberikan kemudahan yang sangat besar bagi masyarakat dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Berbagai kajian keislaman kini dapat diakses melalui internet dan media sosial.
Namun, menurutnya, kemudahan tersebut tetap harus diimbangi dengan metode belajar yang benar serta bimbingan guru yang memiliki kompetensi dan sanad keilmuan yang jelas.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah metode dalam tradisi pembelajaran Islam, di antaranya musyafahah dan talaqqi. Dalam metode tersebut, seorang guru menyampaikan ilmu kepada murid secara langsung, sementara murid menyimak dan menerima penjelasan dari gurunya.
Metode tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran di ruang perkuliahan. Dalam proses perkuliahan, interaksi antara dosen dan mahasiswa umumnya berlangsung lebih terbuka melalui penyampaian tanggapan, pertanyaan, serta diskusi terhadap materi yang dipelajari.
Ahmad Yumardi juga membandingkan tradisi majelis ilmu di Mesir, khususnya lingkungan Al-Azhar, dengan tradisi pembelajaran yang berkembang di Medan.
Menurutnya, di Mesir terdapat tradisi keilmuan yang kuat di lingkungan masjid. Ia menyebut setiap masjid memiliki tradisi pengajaran yang melibatkan para syaikh atau guru yang memberikan kajian kepada masyarakat.
Ia juga menjelaskan bahwa pola pendidikan di Al-Azhar memberikan ruang yang luas kepada mahasiswa untuk mengembangkan kemandirian dalam belajar.
“Di Al-Azhar kita dilepas tanpa ada paksaan untuk belajar. Karena itu, mahasiswa dituntut memiliki kesadaran dan tanggung jawab sendiri dalam mendalami ilmu,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Yumardi turut membahas perdebatan mengenai sejumlah tokoh pemikiran Islam yang kontroversial, termasuk Muhammad Nashiruddin al-Albani.
Ia menyampaikan pandangan kritis terkait kapasitas keilmuan dan sanad yang dimiliki Al-Albani jika dibandingkan dengan tradisi keilmuan para masyaikh yang memiliki jalur transmisi ilmu yang lebih jelas.
Menurut Ahmad Yumardi, pembahasan mengenai seorang tokoh seharusnya dilakukan secara ilmiah dengan melihat karya, metode, kompetensi keilmuan, serta sanad keilmuannya.
Lebih lanjut, ia memaparkan lima tahapan metode belajar yang menurutnya banyak digunakan dalam tradisi pembelajaran mahasiswa Al-Azhar.
Pertama, tashawwur, yakni memperoleh gambaran yang utuh mengenai materi atau persoalan yang akan dipelajari.
Kedua, takyiiful fiqh, yaitu membangun kerangka berpikir terhadap persoalan yang sedang dibahas.
Ketiga, tahrir, yakni mengkaji dan menguraikan berbagai pendapat serta pandangan para ulama atau sarjana terdahulu.
Keempat, munaqasyah wat tarjih, yaitu mendiskusikan berbagai pendapat yang telah dikaji kemudian melakukan tarjih atau menentukan pendapat yang dinilai lebih kuat berdasarkan argumentasi ilmiah.
Kelima, tanzil, yakni bagaimana hasil kajian dan pemahaman tersebut diterapkan serta dipertemukan dengan realitas yang berlaku di tengah masyarakat.
Sementara itu, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UNIVA Medan, Dr. H. M. Tohir Ritonga, Lc., MA, mengatakan kegiatan yang bertujuan menambah wawasan mahasiswa PKU akan terus dilaksanakan.
Menurutnya, kegiatan silaturahim, sharing, dan diskusi dengan tokoh maupun akademisi menjadi bagian penting dalam membentuk mahasiswa yang memiliki wawasan keislaman sekaligus mampu melihat persoalan umat secara lebih luas.
“Kegiatan yang sifatnya menambah wawasan mahasiswa Pendidikan Kader Ulama akan terus dilaksanakan, sehingga ulama muda Al-Washliyah lebih luas dan jauh berpikir ke depan untuk kemaslahatan umat manusia,” katanya.
Ia berharap mahasiswa PKU UNIVA Medan tidak hanya menguasai ilmu keagamaan secara tekstual, tetapi juga mampu memahami perkembangan zaman dan memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan masyarakat. (*)
